Gunung Panderman: Short Escap(ad)e One Day Hiking


Kira-kira hampir dua tahun yang lalu, ada sebuah kata yang terucap dengan tidak sengaja saat kaki ini berdiri di ketinggian dua ribu empat puluh delapan meter di atas permukaan laut. Ya, tepat di Puncak Gunung Panderman kala itu yang merupakan pendakian (serius) pertamaku menyambut pergantian tahun baru dari tahun dua ribu dua belas beralih menjadi tahun dua ribu tiga belas. Baca ceritanya disini ya bagi yang belum baca (Perjuangan Mendaki Gunung Panderman)
"Naik gunung itu capek! Aku gak mau naik gunung lagi, cukup ini yang pertama dan terakhir". Teriakku dalam hati saat itu.
 
Tapi Tuhan berkata lain. Kerinduan menjejakkan kaki menyusuri jalanan setapak menembus hutan nan terjang yang diakhiri dengan lukisan Tuhan maha sempurna di puncak, mengalahkan segala ketakutan yang berkecamuk, mengalahkan rasa capek yang diderita tubuh ini. Perlahan setalah kejadian itu, kujejakkan kaki ini di beberapa tempat yang berada sekian meter di atas permukaan laut. Hanya demi, melihat dan lebih mensyukuri karya Sang Pencipta. Maka dari itu, dua tahun kemudian semenjak pendakian (serius) pertamaku di Gunung Panderman, tiba-tiba ada ajakan untuk kembali kesana lagi. Entah pikiran apa yang membuat badan dan khayalan ini tanpa pikir panjang langsung mengiyakan untuk segera menjejakkan kaki di sana lagi. Panderman, I'm coming!


Pagi hari itu nampaknya cukup bersahabat untuk kami berempat melakukan short escape kali ini. Berbekal dengan persiapan, kami lantunkan sebuah doa untuk mengiringi senantiasa langkah kami sampai puncak dan kembali ke rumah kami masing-masing. Awal yang tidak terlalu berat, beberapa petani masih sering kami jumpai di awal pendakian ini. Sembari mengucap salam, perlahan kami tinggalkan hiruk-pikuk sautan manusia dan berganti menjadi nyanyian burung di udara. Tak terasa perlahan namun pasti kami tiba di pos satu yaitu Latar Ombo. Tak banyak kami membunuh waktu di sini, saling bertukar salam antar pendaki menghiasi waktu singkat kami di sini untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Nampaknya keadaan lembab di lereng gunung memaksa kami untuk lebih berhati-hati. Tanah licin menjadi pemandangan dan rintangan yang harus kami lalui sepanjang pos satu menuju pos dua. Beberapa kali kami putuskan beristirahat karena jalanan licin sering kali membuat kaki kami bekerja lebih keras dan menjadi payah. Tak terasa keringat mulai turun membasahi badan kami pula. Bukan perkara siapa yang lebih cepat ataupun siapa yang lebih lambat. Bukan juga perkara siapa yang paling kuat ataupun yang paling lemah. Tapi siapa yang lebih bisa mengalahkan egonya sendiri selama perjalanan. Ingat, pendakian itu soal perjalanan menaklukkan egomu sendiri.

Albertus Ardika '11
Vincensius Gerard Hukom '12
Valerie Ultima '13
Richie Richardus '14

Watu Gede sebagai penanda pos dua hanya berhasil kami singgahi untuk sekedar melemaskan otot badan yang sedari tadi melawan rasa capek. Jalan masih panjang menuju pos tiga atau puncak. Tak perlu langkah panjang, tak perlu lari tergesa-gesa, tak perlu pula menjadi yang terdepan. Belajar saling mengerti keadaan satu sama lain itu jauh lebih penting, sekedar bercerita menjadi topik yang sangat menarik untuk saling diadu selama perjalanan. Menemani perjalanan di tengah gelapnya hutan belantara dan juga licinnya jalan akibat hujan semalam. Berpegangan, merayap, bahkan loncat kesana kemari memaksa semua harus dilakukan demi membawa badan ini bisa berdiri di sana. Ya berdiri di Puncak Gunung Panderman.

Quotes keren kali ini dipersembahkan dari Komunitas Pendaki Gunung Malang Raya

Selamat siang, wahai semesta

Ini bukan surga, ini Indonesia surganya dunia

Perlahan tapi pasti, akhirnya perjalanan kami berhenti di ketinggian dua ribu empat puluh delapan meter di atas permukaan laut. Capek yang kami rasakan, keringat yang mengucur, serta rasa lapar yang kami derita sepanjang perjalanan seketika lenyap saat berada di puncak. Berdiam sejenak, sekedar menikmati sapaan dari angin di Puncak Gunung Panderman membuat seakan waktu bergerak sangat cepat. Meskipun cuaca mendung saat itu dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya ditengah perjalanan, tapi sekali lagi tak ada yang sia-sia. Perjalanan selalu mengajarkan banyak hal, bahkan sebuah perjalan yang terbilang singkat ini. Tak perlu waktu lama, salam kami tinggalkan dan doa kami panjatkan, saatnya bergegas mencapai tujuan kami yang utama, rumah.

2 komentar:

  1. Kurang lebih 40 thn yg lalu kami mendaki Panderman bersama Frater Spiridion. Sengaja berangkat jam 13.00, untuk mengetest kerja sama antar kita. Kalau saya ke Batu lagi (entah kapan), saya berencana dengan teman2 di Batu (Pak Budi,Pak Bentung,Pak Dirman & pak Hwat Fie) untuk mendaki kembali Panderman. Terima kasih atas report ini. A.W

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah berkenan mampir dan membaca :)

      Delete

Sebelum pergi jangan lupa tinggalkan komentar, kritik, saran, dan share juga ke temen kalian ya. Apresiasi sekecil apapun bisa jadi punya pengaruh yang sangat besar bagi pembaca lain dan juga blog ini ke depannya. Terimakasih sudah mampir dan membaca :))

 

Loyal Followers

Backpacker Indonesia

KBMR